Fenomagz
Unleash the Wild Side

Mengapa Menguap Bisa Menular? Ini Penjelasannya

0

Ikut menguap ketika orang lain menguap bukanlah karena latah, melainkan menguap memang bisa menular

 

FENOMAGZ – Menguap adalah tindakan refleks yang terjadi pada semua orang. Menguap biasanya dilakukan untuk menghirup udara dalam jumlah banyak dan diikuti dengan pernapasan. Tindakan refleks ini seringkali dikaitkan dengan stres, kelelahan, terlalu banyak kerjaan, kebosanan dan mengantuk. Menguap juga bisa terjadi bila ada kelebihan karbondioksida atau kelangkaan oksigen dalam aliran darah.

penyebab menguap

Studi terbaru menunjukkan menguap bukan saja sebagai tanda seseorang ingin tidur. Tapi tujuan menguap untuk mendinginkan otak sehingga dapat beroperasi lebih efisien dan membuat seseorang tetap terjaga.

Namun, pernahkah Fenomen menyadari bahwa ketika orang lain menguap, Anda juga  ikut-ikutan menguap? Apa penyebabnya? Ikut menguap ketika orang lain menguap bukanlah karena latah, melainkan menguap memang bisa menular.

Mengapa ketika seseorang menguap yang melihatnya juga ikut menguap?

“Kami berpikir penyebab menguap itu menular karena dipicu oleh mekanisme empatik yang berfungsi untuk menjaga kewaspadaan kelompok. Karenanya menguap adalah tanda empati,” ujar seorang peneliti Dr Gordon Gallup, seperti dikutip dari BBCNews, Minggu (26/2/2017).

Penyebab lain menularnya menguap adalah karena aktifnya sistem saraf cermin (mirror neurons system), yaitu neuron yang terletak di bagian depan setiap belahan otak vertebrata tertentu.

Ketika menerima stimulus (rangsangan) dari spesies yang sama, maka spesies tersebut juga akan mengaktifkan daerah yang sama di otak. Hal inilah yang menyebabkan seseorang akan menguap jika melihat oang lain menguap.

Baca juga:   Bahaya Konsumsi Mie Instan Terlalu Sering

Sistem saraf cermin ini bertindak sebagai penggerak untuk meniru dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran manusia. Karenanya menguap sering dianggap sebagai cabang dari impuls (gerakan) tiruan yang sama.

Jika pusat dari sistem neuron cermin tidak aktif saat melihat seseorang menguap, maka hal ini tidak akan memiliki hubungan dengan keinginan merespons untuk menguap.

Semakin kuat seseorang ingin menguap, maka semakin kuat pula aktivasi dari bagian otak periamygdalar kiri. Hasil temuan ini merupakan tanda neurofisiologis pertama yang mengungkapkan bahwa menguap bisa menular.

Daerah periamygdalar adalah zona yang terletak di samping amigdala dan struktur bentuknya seperti kacang almond yang terletak jauh di dalam otak.

Aktivasi beberapa bahan kimia yang ditemukan di otak, misalnya, serotonin, dopamin, glutamin, asam glutamat dan oksida nitrat, dapat pula meningkatkan frekuensi menguap. Sedangkan beberapa bahan kimia lain seperti endorfin justru bisa mengurangi frekuensi menguap.

Tahapan yang terjadi ketika seseorang menguap adalah:

  • Dimulai dengan mulut terbuka
  • Rahang bergerak ke bawah
  • Memaksimumkan udara yang mungkin dapat diambil ke dalam paru-paru
  • Menghirup udara
  • Otot-otot perut berkontraksi
  • Diafragma didorong ke bawah paru-paru
  • Terakhir beberapa udara ditiupkan kembali

Beberapa studi menunjukkan manfaat dari menguap yaitu dapat menstabilkan tekanan di kedua sisi gendang telinga atau mirip dengan peregangan, melenturkan otot dan sendi pada tubuh serta meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung. (fmz/pm)

Comments
Loading...