Fenomagz
Unleash the Wild Side

Benarkah Cinta Dapat Membuat Manusia Jadi Bodoh? Berikut Kajian Ilmiahnya

berikut ini adalah hasil penelitian yang dilakukan kepada orang-orang

0

FENOMAGZ – Ketika kita di landa oleh cinta, obsesi tunggal kepada kekasih dapat menekan aspek-aspek lain dalam kehidupan intelektual, misalnya belajar atau bekerja. Secara khusus, cinta yang menggebu-gebu selalu di kaitkan dengan menurunnya kendali kognitif. Padahal kendali kognitif itu adalah kemampuan kita berfokus pada suatu hal sambil mengabaikan bermacam-macam gangguan.

Lebih jauh lagi, ketika berfikir tentang cinta, kita pun akan meraih hasil yang lebih buruk dalam melakukan tugas-tugas pemikiran analistis.

Para peneliti menduga bahwa perasaan cinta memberi stimulasi ke daerah-daerah pada otak yang berkaitan dengan fungsi-fungsi kognitif lain. Walaupun cinta akan melemahkan beberapa kemampuan kognitif, misalnya ingatan jangka pendek dan atensi, pengalaman cinta dapat memperbaiki fungsi-fungsi syaraf semisal identifikasi keadaan emosional dan pemikiran kreatif. Perlu di ketahui bahwa penelitian melibatkan para mahasiswa S1, sehingga tidak jelas apakah cinta juga membuat bodoh orang-orang yang lebih tua.

Baca juga: 4 Kelebihan Yang Hanya Dimiliki Oleh Wanita Dengan Payudara Kecil

Walaupun tidak terlalu mengherankan bahwa cinta membuat kita bodoh, kita mungkin terkejut bahwa seks malah membuat jadi lebih pintar. Beberapa bukti menunjukan bahwa kegiatan seksual berkaitan dengan kemampuan kognitif yang lebih baik pada orang dewasa. Orang dewasa yang tetap tertarik dan terlibat dengan kegiatan seksual juga akan mempertahankan kognitif yang lebih kuat semisal kemahiran verbal, pengurutan angka, dan hafalan.

Para peneliti menduga bahwa seks meningkatkan sekresi dopamin yang kemudian membantu meningkatkan ingatan jangka pendek dan kemampuan kognitif. Tapi, penelitian ini melibatkan orang dewasa yang relatif sepuh, yaitu yang sudah berusia diatas 50 tahun.

Baca juga:   Posisi Seks Yang Bikin Istri Jadi Sulit Orgasme

Dengan demikian, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa orang yang berusia di bawah 50 tahun akan mendapatkan manfaat dari peningkatan ketertarikan dan partisipasi dalam seks.

Tapi, ketika para sukarelawan penelitian di minta menambahkan frekuensi hubungan seksual, mereka malah menunjukan penurunan tingkat kebahagiaan. (fmz/bb)

Comments
Loading...