advertisement

Robot Seks, Apakah Solusi atau Cuma Seksisme?

berikut ini penjelasan menurut para ahli

judi

FENOMAGZ – Kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) semakin inovatif dalam melakukan perkembangannya untuk meningkatkan performa dari robot, ada yang ditujukan hanya untuk kepentingan industri, dan ada juga hanya untuk kepentingan seks atau sextech.

Baca juga: Ini Dia 7 Cedera Yang Mungkin Bisa Terjadi Saat Sedang Bercinta

Kehadiran robot seks pun jelas akan menghadirkan kontroversi, dengan bermacam bahasan mulai dari segi kriminal sampai dengan segi etika. Namun, untuk ilmuwan Sergi Santos, kehadiran robot seks justru dijadikan sebuah bisnis.

“Saya sudah siap, bagaimana denganmu? Saya harap kamu siap. Saya menikmati waktu bersamamu, selalu,” ucap sebuah robot seks milik Santos ketika si ilmuwan menggodanya. Santos dan istrinya memang disibukkan dengan bisnis robot seks yang mereka pasarkan pada harga 2.295 euro (sekitar Rp 38 juta).

Santos percaya kalau memiliki robot seks dapat mengurangi orang yang menyewa jasa prostitusi seperti PSK (pekerja seks komersial), sehingga dapat membantu melawan sex trafficking (penyelundupan manusia untuk tujuan seks)

“Haruskah kau menyelundupkan manusia? Saya pikir sudah jelas tidak. Jadi, kita harus menghentikan itu dan membuat orang-orang menyisihkan uang mereka untuk boneka-boneka seks ini,” ucap Santos yang juga berupaya membuat robot seks laki-laki agar semua jenis kelamin bisa turut menikmati.

Meski begitu, para ahli menyatakan masalah robot yang bertingkah seperti manusia ditangani secara serius oleh pemerintah dan publik.

Salah satu ahli yang menolak pemakaian robot seks sebagai solusi adalah Kathleen Richardson, seorang pakar etika dan pendiri Kampanye Melawan Robot Seks.

Ia menilai, kehadiran robot perempuan untuk melampiaskan nafsu seksual sebagai sesuatu yang problematis dan mengobjektifikasi perempuan.

“Saya tidak berpikir robot seks akan mengurangi sex trafficking,” ucapnya. Menurut Richardson, robot seks hanya akan menjadi “menu lain” bagi orang-orang yang menggemari pasar prostitusi.

Richardson menambahkan kalau boneka dan robot seks bisa menjadi berbahaya, contohnya dipakai sebagai sarana pelampiasan fantasi pemerkosaan dan pedofilia.

“Memberikan boneka seks sebagai ‘penyalur’ dan membuat orang berfantasi tentang hal itu adalah hal berbahaya,” ucap Richardson.

“Sangat luar biasa tidak bertanggung jawab bila mempromosikan cara berpikir demikian pada masyarakat,” lanjut wanita yang sudah mempelajari ilmu robotik selama 10 tahun ini.

Selama ini, memang ada anggapan bahwa robot seks adalah salah satu “solusi” untuk mengatasi pedofilia. (fmz/bb)

Comments
Loading...