Suplemen Garam Keton untuk Atlet, bermanfaat Atau Berbahaya?

berikut ini penjelasan dari sebuha penelitian yang telah dilakukan tentang garam keton

FENOMAGZ – Selain latihan fisik secara rutin, menjaga asupan makanan juga sangat penting bagi para atlet untuk menjaga tubuhnya agar tetap prima. Salah satu asupan makanan yang sering dikonsumsi para atlet adalah suplemen garam keton. Bahkan, tidak sedikit atlet yang menjadikan suplemen garam keton sebagai suplemen wajib untuk penambah stamina karena menganggap jika garam merupakan salah satu asupan makanan yang memiliki gizi baik.

Baca juga: 6 Makanan Yang Baik Dikonsumsi Setelah Berolahraga

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para periset dari University of British Columbia di Kanada mengatakan bahwa mengkonsumsi tambahan garam bergizi atau suplemen garam keton dapat menghambat ketimbang memperbaiki, kinerja atlet selama latihan intensitas tinggi seperti berlari 10 km atau bersepeda ke atas bukit.

Selama penelitian, para peneliti melibatkan sepuluh atlet pria dewasa yang memiliki indeks massa tubuh (IMT atau bodu mass index) yang serupa. Kemudian peneliti membagi peserta kedalam dua kelompok secara acak.

Kelompok pertama mengkonsumsi suplemen garam keton, sedangkan kelompok kedua tidak mengkonsumsi suplemen tersebut. Setengah jam setelah para peserta menelan suplemen, para peneliti kemudian melakukan uji coba bersepeda dalam jangka waktu tertentu.

Walau penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa suplemen keton memperbaiki kinerja daya tahan lama, namun hasil penelitian ini justru berkebalikan. Pasalnya, kelompok peserta yang mengkonsumsi suplemen garam keton mengalami stamina sebanyak tujuh persen lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kedua yang tidak mengkonsumsi suplemen tersebut.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Applied Physiology, Nutrition, and Metabolism ini menunjukkan bahwa garam keton bekerja dengan menaikkan kadar keton darah dan memaksa tubuh untuk mengendalkan pembakaran lemak sebagai bahan bakar.

Padahal, proses pembakaran lemak untuk menjadi sumber energi membutuhkan waktu yang panjang dan rumit. Ini artinya, energi yang berasal dari lemak mungkin tidak ideal untuk para atlet karena atlet membutuhkan sumber energi yang diproduksi secara cepat, seperti glukosa (gula) darah. (fmz/bb)

Comments
Loading...