6 Manfaat BDSM Yang Terbukti Secara Ilmiah

Menurut Dr. Jefferey Sumber, seorang psikoterapis dari Chicago

Fenomagz – Pernah mendengar istilah seks BDSM? Atau justru pernah melakukannya dengan pasangan tercinta?

Jika selama ini, BDSM dianggap tidak lebih sebagai variasi untuk membuat ranjang bercinta kian panas, bisa jadi Anda luput dari pembahasan terkini mengenai ragam seks yang — salah satunya — populer melalui seri film 50 Shades of Grey.

Bondage, Discipline, Sadism & Masacochism (BDSM) adalah salah satu alternatif kegiatan seks yang melibatkan aksi saling mengikat mengikat, mencambuk, menggunakan sex toy, dan beberapa fantasi liar yang kadang terkesan kasar.

Dalam konsep BDSM, selalu ada pihak dominant dan submissive. Sesuai namanya, pihak dominant berperan sebagai pengendali dari semua aktifitas seksual, sementara submissive harus menerima apapun aktivitas seks yang diperintahkan oleh pihak dominan.

Namun dalam prakteknya, peran dominant dan submissive bisa dilakukan secara bergantian.

Menariknya, menurut beberapa studi ilmiah, seks BDSM ternyata memiliki manfaat-manfaat yang dapat meningkatkan kualitas hubungan pasangan.

Tidak percaya? Berikut adalah manfaat-manfaatnya yang kami rangkum dalam artikel rangkai di bawah ini.

1. Memperbaiki Komunikasi

Pasangan yang melakukan BDSM cenderung memiliki tingkat komunikasi yang lebih baik daripada yang tidak. Hal ini disebabkan karena mereka selalu mengutamakan kepuasan pasangannya, sehingga porsi mereka berdiskusi menjadi lebih banyak.

Menurut Dr. Jefferey Sumber, seorang psikoterapis dari Chicago, pasangan yang melakukan BDSM juga akan lebih berkembang jika mengutamakan transparansi dan interaksi yang efektif.

2. Meningkatkan Keintiman

Kenyataan bahwa aktivitas ini melibatkan resiko fisik sebenarnya dapat meningkatkan tingkat keintiman pasangan.

Sebuah studi tahun 2009 yang diterbitkan dalam jurnal Archieves of Sexual Behaviour mengungkapkan bahwa pasangan yang melakukan kegiatan seks BDSM. menunjukkan kedekatan dalam hubungan mereka yang meningkat.

Patricia Johnson, penulis buku Partners in Passion: A Guide to Great Sex, Emotional Intimacy, and Long-term Love, mengatakan bahwa jika seseorang mencoba untuk ‘mengikat’ lengan Anda dan mencambuk Anda, di situlah terlihat level kepercayaan yang tinggi dalam hubungan.

3. Meningkatkan Kesetiaan

Kesetiaan adalah satu hal kunci dalam sebuah hubungan. BDSM ternyata juga memiliki andil dalam meningkatkan kadar kesetiaan masing-masing pasangan.

Aktivitas BDSM juga dipercaya dapat menghalangi orang untuk berselingkuh ataupun hal-hal yang tidak diinginkan pasangannya. Ini disebabkan karena energi, emosi, dan kepercayaan yang telah diberikan pada hubungan tersebut.

4. Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Dahulu BDSM selalu dihubungkan dengan siksaan, pemerkosaan, atau penyakit jiwa, namun penelitian sudah membuktikan bahwa hal tersebut salah.

Sebuah studi pada 2013, yang dimuat di Journal of Sexual Medicine, menemukan bahwa orang-orang yang melakukan praktek seks ini mendapat nilai yang lebih pada indikator kesehatan mental daripada mereka yang tidak.

Mereka lebih terbuka, lebih sadar dan lebih sensitif pada penolakan, lebih berhati-hati dalam hubungan, dan lebih sejahtera secara keseluruhan.

5. Mengurangi Stres Psikologis

Tingkat stres secara psikologis cenderung berkurang saat melakukan aktivitas BDSM.

Studi tahun 2009 yang sebelumnya telahdisebut, mengungkapkan bahwa masing-masing pasangan seksual — secara konsisten — memiliki level kortisol yang lebih rendah setelah melakukan hubungan ini.

Hal tersebut mungkin berhubungan dengan BDSM yang lebih berekperimen dalam intensitas fisik saat melepaskan judgment, ekspektasi, dan kecemasan dalam seksualitas.

6. Menghilangkan Kegelisahan

Kepuasan atas menyakiti atau disakiti ternyata dapat mengurangi kegelisahan atau kecemasan pada diri seseorang.

Sebuah penelitian tahun 2014—yang disiarkan pada pertemuan Society for Personality and Social Physicology di Austin, Texas, Amerika Serikat (AS)—menemukan fakta bahwa saat melakukan seks alternatif ini, terjadi perubahan aliran darah dalam otak yang dapat mengubah kondisi kesadaran yang mirip dengan ‘runner’s high‘ atau yoga.

Penyebab ketenangan yang didapat adalah karena kurangnya aliran darah di area tersebut, yang lalu berdampak pada berkurangnya kecemasan.

Comments
Loading...