Beranda Sex Life Berikut Kunci Seks Yang Membahagiakan Menurut Para Ilmuwan

Berikut Kunci Seks Yang Membahagiakan Menurut Para Ilmuwan

hubungan seks

Fenomagz – Mengapa seks membahagiakan? Para ilmuwan penasaran menemukan jawabannya.

Seks selalu jadi topik menarik, terutama menilik unsur ilmiah yang melatarbelakangi perasaan yang muncul karenanya. Tak heran jika banyak ilmuwan meneliti berbagai aspek dari hubungan intim dua manusia.

Ada riset menunjukkan betapa tingginya frekuensi seks meningkatkan kebahagiaan secara umum. Bahkan ada yang menyimpulkan berhubungan seks setiap pekan–bukan sebulan sekali–lebih membahagiakan ketimbang mendapat pemasukan tambahan sebesar US$50 ribu per tahun.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Personality and Social Psychology Bulletin mengemukakan gagasan lain. Dalam hal hubungan seks, yang membuat seseorang bahagia bukanlah persetubuhan melainkan apa yang dilakukan sebelum, selagi, dan sesudahnya.

“Kami membuktikan alasan penting bahwa seks diasosiasikan dengan kesejahteraan karena meningkatkan kemesraan dengan pasangan,” jelas salah satu penulis riset Anik Debrot. “Itu mengapa, kualitas ikatan dengan pasangan merupakan hal penting untuk memahami keuntungan dari hubungan seks,” lanjut Debrot.

Studi yang dilakukan Debrot dan tim terdiri atas beberapa eksperimen. Dalam eksperimen pertama mereka merekrut 335 pasangan Amerika secara daring. Kesemuanya ditanya soal frekuensi seks, kepuasan hidup, dan frekuensi bercumbu–dan aktivitas semacamnya.

Eksperimen kedua melibatkan 74 pasangan yang direkrut di sekitar kawasan San Fransisco, AS. Frekuensi seks dan sentuhan dihubungkan dengan perasaan hidup itu menyenangkan.

Namun, setelah melihat kembali angka dari hasil riset, periset menyimpulkan bahwa hubungan antara seks dan kebahagiaan secara umum tergantung pada sentuhan dan kemesraan.

Artinya, ketika para peneliti memperhitungkan sentuhan dalam model prediksi mereka, hubungan antara frekuensi seks dan kepuasan hidup jadi tidak signifikan. Hasil ini ditemukan sama, walau diuji pada pasangan berbeda baik dari segi usia, durasi dan status hubungan.

Untuk penelitian ketiga dan keempat, Debrot dan tim menggunakan pendekatan buku harian. Para partisipan diminta mencatat perasaan, aktivitas mesra dan hubungan seksual dalam sebuah gawai sepanjang hari, selama beberapa hari.

Pada eksperimen ketiga ada 106 pasangan Swiss–mayoritas sudah menikah dan memiliki anak berusia di bawah delapan tahun. Mereka diminta mencatat aktivitas ini selama enam bulan. Untuk eksperimen keempat, para periset melibatkan 58 pasangan Swiss yang mayoritas merupakan pelajar universitas.

Kedua eksperimen terakhir ini menunjukkan bahwa pada hari-hari dimana mereka berhubungan seks, mereka merasa lebih mesra. Suasana hati pun jadi lebih positif sesaat setelah, bahkan berjam-jam setelah berhubungan seks.

Lewat eksperimen ini periset dapat membuktikan bahwa seks mendukung emosi positif, namun hal ini tidak berlaku sebaliknya, emosi positif tidak meningkatkan kemungkinan hubungan seks. “Ini mengindikasikan bahwa orang merasa senang karena berhubungan seks, bukannya mereka berhubungan seks karena merasa senang,” papar Debrot.

Temuan ini mendukung kesimpulan bahwa kemesraan–yang telah terbukti mendukung kesejahteraan psikologis dan fisiologis di luar hubungan seksual–adalah kunci kenikmatan hubungan seks.

Jadi bisa disimpulkan bahwa hubungan seksual mendongkrak kemesraan, dan kemesraan dapat membuat seseorang merasa bahagia seketika, bahkan dalam kurun waktu lama.

Teemuan Debrot dan tim ini, disambut baik oleh Robin Milhausen, profesor hubungan keluarga dan seksualitas manusia di University of Guelph, Ontario, Kanada. “Seks tidak bisa dipisahkan dari konteks. Kemesraan, termasuk yang terjadi pascaseks adalah hal penting,” ujar Milhausen.

Kemesraan adalah hal penting baik bagi perempuan maupun laki-laki. Hal ini kontras dengan stereotip bahwa pria bisa saja hidup tanpa cumbu mesra.