Beranda Sex Life Dampak Penyimpangan Seksual Ekshibisionisme Yang Harus Di Jauhi

Dampak Penyimpangan Seksual Ekshibisionisme Yang Harus Di Jauhi

Fenomagz – Dampak buruk ekshibisionisme, yang termasuk kategori penyimpangan seksual dapat memengaruhi pergaulan orang yang bersangkutan. Kondisi ini ditandai perilaku memperlihatkan alat kelamin seseorang pada orang lain.

Perilaku penyimpangan seksual ini pun membuat seseorang merasa ada yang ‘berbeda’ dari orang normal lainnya. Dokter spesialis kesehatan jiwa Alvina menjelaskan lebih lanjut soal ekshibisionisme.

“Ada kemungkinan, orang yang memiliki kondisi ekshibisionisme memiliki gangguan jiwa yang lain. Misal, ia kesulitan bersosialisasi, dan kepercayaan diri yang rendah. Biasanya, target ekshibisionis, orang asing yang tidak dikenal,” jelas Alvina melalui keterangan tertulis.

Selanjutnya, dampak berkelanjutan dalam diri ekshibisionis (penyebutan orang yang mengalami ekshibisionisme) di antaranya, sesaat merasakan kepuasan seksual. Kemudian ia mungkin merasa bersalah, tapi tidak bisa menahan dorongan untuk melakukannya kembali.

Rasa ‘berbeda’ pada diri ekshibisionis menyebabkanya ia semakin menarik diri dari pergaulan sosial. Ia merasa malu atas tindakan penyimpangan seksual yang dilakukannya.

Abaikan dan Menjauh

Salah satu contoh kasus ekshibisionisme, yakni seorang pria di Tasikmalaya, Jawa Barat yang melemparkan air mani kepada korban wanita pada 13 November 2019. Dalam kejadian itu, ia memperlihatkan alat kelamin, lalu melemparkan air mani ke korban.

“Jika kita bertemu dengan orang yang memperlihatkan alat kelamin, sebisa mungkin mengabaikan dan menjauh. Bila timbul perasaan tidak nyaman setelah bertemu dengan orang yang menunjukkan ciri-ciri ekshibisionis, Anda bisa mencari bantuan profesional (psikolog/psikiater) untuk berkonsultasi lebih lanjut,” saran Alvina yang sehari-hari berpraktik di RS Awal Bros Bekasi Barat.

Yang perlu diperhatikan, orang dengan ekshibisionisme adalah orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa atau mental. Ekshibisionis memerlukan pertolongan secara medis.

Terapi dengan memadukan psikofarmaka (obat) dengan psikoterapi menjadi solusinya. Upaya pun dilengkapi pemeriksaan kejiwaan.