advertisement

Kekerasan Seks Berpengaruh Atas Kepuasan?

pernyataan dari Psychology Today tentang kekerasan seks

judi

Fenomagz – Perilaku berhubungan seksual sembari menyakiti pasangannya atau bahkan menyakiti diri sendiri adalah sebuah kelainan. Kelainan seksual ini disebut dengan masokis. Apa itu masokis?

Apa itu masokis?

Masokis atau masokisme adalah kondisi di mana seseorang merasa terangsang, bahkan sampai orgasme, ketika mereka dipukuli, dicaci-maki, diikat, dibuat sakit secara fisik saat sedang berhubungan seksual.

Kondisi masokis ini termasuk dalam kategori parafilia alias kelainan seksual. Seseorang yang didiagnosis masokisme biasanya akan mengalami gejala lain. Gejala tersebut di antaranya berupa rasa cemas berlebih, mengalami rasa malu tanpa sebab, dan pikirannya obsesif dengan ide masokis secara terus-menerus.

Namun seseorang yang punya kecenderungan melakukan masokisme bisa saja tidak dikatakan sebagai masokis apabila mereka mampu mengendalikan masokisnya. Seseorang juga tidak disebut masokis apabila memiliki gejala lain seperti yang dijelaskan di atas, dan mampu memenuhi kepuasan seksnya tanpa melakukan masokisme.

Masokisme sebetulnya punya jenis spesifik lain, namanya asphyxiophilia. Ini adalah kondisi di mana seseorang menerima kepuasan seksual dengan cara menahan napas dirinya sendiri yang dibantu dilakukan oleh pasangannya. Bisa dilakukan dengan cara dicekik, menutup wajah dengan bantal, atau hal lain yang membuat mereka menahan napas. Tak jarang, banyak penderita masokisme jenis ini yang berujung kematian karena kehabisan napas.

 

Apa penyebab seseorang mengalami kondisi ini?

Sampai saat ini penyebab kelainan seksual masokisme belum diketahui. Namun, Psychology Today mengatakan bahwa ada beberapa teori yang menduga kelainan seksual ini terjadi ketika fantasi seseorang tidak dapat ia tahan. Ada juga teori lain yang mengatakan bahwa ini adalah sebuah cara melarikan diri dari kenyataan. Misalnya seseorang merasa lebih gagah saat melakukan masokis di ranjang. Namun di balik itu, ia sebenarnya merupakan orang yang pemalu, pendiam bahkan takut kepada lawan jenis.

Dengan berperan sesuai dengan fantasinya, orang-orang ini merasa menjadi pribadi baru yang berbeda. Selain itu, beberapa teori psikoanalitik menduga bahwa perilaku masokis ini disebabkan oleh trauma masa kecil (misalnya pelecehan seksual) atau pengalaman masa kecil yang berhubungan dengan kasus parafilia lainnya.

 

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Biasanya, dokter mendiagnosis kasus masokis ini apabila seseorang tersebut telah mengalami rangsangan seksual berulang yang intens. Namun, rangsangan seksual yang diterima juga disertai dengan aktivitas kekerasan lainnya, seperti dipukuli, dihina, diikat, atau mengalami beberapa bentuk penderitaan lainnya.

Seseorang dikatakan memiliki masokis apabila jenis dorongan fantasi tersebut atau perilaku tersebut telah ia rasakan setidaknya selama enam bulan. Hal ini juga dibarengi dengan aspek kehidupan lain yang terganggu, seperti pekerjaan dan sosial.  Perilaku seksual masokisme ini biasanya sudah bisa terlihat dan terdiagnosis sejak usia dewasa awal dan kadang-kadang bahkan dimulai dari usia anak-anak.

 

Apa kelainan seksual ini bisa diobati?

Bisa, namun tidak mudah. Ada beberapa cara yang harus dilakukan untuk mengatasi kelainan seksual masokisme.

Metode psikoterapi

Psikoterapi dilakukan untuk mengetahui dan mengatasi penyebab pelaku masokisme melakukan hal menyimpang. Terapis nantinya akan membantu pelaku mengubah pola pikir saat berhubungan seks dan berupaya memunculkan empati di dalam diri pelaku masokis.

Pola pikir yang diubah ini bertujuan untuk mengubah keyakinan pelaku, bahwa perilaku seks yang ia lakukan selama ini salah, berbahaya, dan tidak boleh dilakukan. Sementara itu, upaya memunculkan empati dilakukan dengan tujuan membantu pelaku memahami sisi korban yang menderita akibat perilaku masokis. Pemahaman bahwa perilaku itu berakibat fatal, baik dari sisi korban maupun pelaku akan ditanamkan dalam diri pelaku.

Terapi kognitif

Kelainan seksual ini juga bisa dibantu dengan terapi kognitif. Terapi ini membantu pasien untuk mengelola hasrat seksual mereka dengan cara yang lebih sehat. Salah satu strategi psikoterapi ini adalah dengan cara membuat pelaku terlibat masokisme, menjadi korban, dan kemudian mengalami peristiwa negatif untuk mengurangi keinginannya melakukan kekerasan saat berhubungan seksual.

Terapi psikodinamik

Terapi ini mengaitkan adanya kenangan dan konflik (mungkin dari masa lalu) yang mungkin tidak Anda sadari namun turut memengaruhi perilaku menyimpang seksual Anda. Terapi psikodinamik akan membantu mengungkap pengaruh masa awal anak-anak mengenai kebiasaan pelaku masokis saat ini. Metode ini juga membantu menggali faktor saat ini yang turut memicu munculnya kecanduan perilaku seks pada masa sekarang.

Minum obat antidepresan

Obat antidepresan sering diresepkan sebagai obat untuk mengurangi dorongan seks seseorang. Selain itu, para penderita masokis juga mungkin diberi obat yang berguna untuk menurunkan kadar testosteron agar mengurangi intesitas ereksi yang mereka alami.

 

Kelainan seksual lain yang perlu Anda tahu

1. Eksibisionis

Exhibitionist atau eksibisionis adalah orang yang senang memperlihatkan alat kelamin mereka di depan umum atau orang tidak dikenal. Mungkin ini terdengar “sakit” bagi hampir semua orang, tapi untuk beberapa exhibitionist, menurut Stephen Hart, seorang psikolog forensik, hal ini adalah cara mereka memberikan kesan kepada orang lain.

Eksibisionisme adalah kelainan psikologis jenis parafilia, menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) V. Sementara itu parafilia sendiri adalah hasrat seksual yang cenderung ekstrem dan tidak biasa. Bagi para exhibitionist, menampilkan alat kelamin mereka di depan publik justru memberikan kenikmatan seksual tersendiri.

2. Voyeurism

Kelainan seks ini merupakan salah satu kondisi di mana seseorang mendapatkan kepuasan seks dengan cara mengintip, menguntit, memandang, dan melihat orang lain secara diam-diam. Orang dibuntuti biasanya sedang melakukan aktivitas, seperti telanjang, ganti baju, atau mandi. Dari aktivitas ini, pelaku voyeurisme mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat orang lain tanpa diketahui.

3. Nekrofilia

Necrophilia atau nekrofilia merupakan salah satu kelainan seksual yang cukup ekstrem lainnya, yakni memiliki hasrat bercinta dengan jenazah (tubuh orang yang sudah meninggal). Hal ini bisa termasuk dalam suatu kejahatan serius. Para ahli memutuskan bahwa ini termasuk suatu tindakan pemerkosaan. Hal ini disebabkan orang yang telah meninggal tidak bisa memberikan persetujuan untuk tindakan yang orang lain akan lakukan padanya.

4. Pedofilia

Pedofilia merupakan kelainan dalam hasrat seksual yang terjadi saat orientasi seks seseorang yang sudah dewasa terfokus pada anak-anak, bukan sesama dewasa. Menurut Ray Blanchard dari WebMD, pedofil (sebutan bagi pelaku pedofilia) biasanya melakukan dan memiliki hasrat seksual dengan remaja atau anak berusia 13 tahun ke bawah.

Kini aksi pedofilia sudah digolongkan sebagai tindak pelecehan seksual pada anak di bawah umur. Namun, ada yang perlu diketahui bahwa tidak semua pedofil melakukan pelecehan pada anak. Tentunya pula, tidak semua orang yang melakukan kekerasan seksual pada anak-anak merupakan pedofil.

Comments
Loading...