Tidak Semua Orgasme Selalu Menyenangkan

hasil studi yang ditulis psikolog Sara B Chadwick di University of Michigan dan timnya

Fenomagz – Orgasme tidak selalu menyenangkan bagi setiap individu. Berhubungan seks yang mengarah pada orgasme bisa memberikan pengalaman yang buruk.

Temuan itu dari hasil studi yang ditulis psikolog Sara B Chadwick di University of Michigan dan timnya. Para peneliti tertarik mencari tahu, apakah orgasme yang “buruk” dapat dialami individu.

“Tampaknya ada asumsi yang tersebar luas bahwa orgasme selama hubungan seksual selalu positif. Tetapi penelitian tidak pernah mengeksplorasi kemungkinan bahwa mereka mungkin memberikan pengalaman yang negatif atau buruk dalam kondisi-kondisi tertentu,” jelas Sara.

Studi orgasme tersebut berjudul When Orgasms Do Not Equal Pleasure: Accounts of “Bad” Orgasm Experiences During Consensual Sexual Encounters, yang dipublikasikan di Archives of Sexual Behavior pada 11 September 2019. Selama penelitian, 726 partisipan direkrut melalui iklan daring.

Para peneliti melihat pengalaman orgasme selama hubungan seks secara paksa, suka sama suka tapi tidak diinginkan, serta bercinta dalam keadaan tertekan untuk mencapai orgasme. Dari 726 partisipan, 289 di antaranya memberikan respons adanya pengalaman orgasme yang buruk.

Orgasme Belum Tentu Disukai

Sara berbagi informasi, orang tidak boleh berasumsi, hanya karena pasangan mereka mencapai orgasme, maka mereka memiliki pengalaman yang menyenangkan.

“Seseorang yang mengalami orgasme selama seks yang tidak diinginkan menandakan orgasme bukan berarti mereka menyukainya,” lanjutnya.

Psikolog Rutgers, Barry Komisaruk menjelaskan, bagaimana seks berakhir menjadi orgasme dengan pengalaman buruk. Partisipan mengungkapkan, perasaan ditekan hingga mengalami orgasme semata-mata demi menyenangkan pasangan.

Kondisi itu tidak membuat mereka bahagia hingga mengalami pelepasan emosi, baik frustrasi dan perasaan dikhianati oleh tubuh sendiri (karena harus pura-pura terpuaskan).

Pencapaian Maskulinitas

Beberapa pria menganggap, orgasme yang dialami pasangan mereka sebagai bentuk pencapaian maskulinitas. Ini menyebabkan wanita merasa perlu orgasme untuk meredakan ego pasangan pria.

Di sisi lain, orgasme yang buruk dalam beberapa kasus menghasilkan laporan yang lebih baik, terutama berkaitan dengan komunikasi antara pasangan.

Untuk berhubungan seks yang baik, penting memerhatikan tidak hanya kebutuhan pasangan mereka, tetapi juga isyarat yang tidak terucapkan, seperti komunikasi dan gerak tubuh nonverbal. Pasangan bisa siap menyelesaikan hubungan seksual, bahkan jika itu tidak menghasilkan orgasme.

Mendorong seseorang berhubungan seks atau melanjutkannya ketika mereka tidak mau bisa mengarah pada perasaan paksaan dan diabaikan.

“Orang-orang dapat mengalami orgasme selama seks yang tidak diinginkan, seks yang rumit atau hanya seks biasa-biasa saja/membosankan. Orgasme tidak secara otomatis membuat seks menjadi hebat,” ujar Sara.

Comments
Loading...